Pembelajaran kuda Sumbawa

Kabarnya, Kuda Sumbawa adalah ras kuda yang paling sering menjadi jawara dalam setiap penyelenggaraan perlombaan berkuda. Baik pada nomer ketangkasan maupun nomer kecepatan/pacuan. Jenis kuda ini di namakan demikian karena disesuaikan dengan daerah asalnya yaitu pulau Sumbawa.

Tulisan ini tidak bermaksud membahas lebih jauh tentang kuda yang banyak di gandrungi atlet berkuda. Pembelajaran kuda Sumbawa ini disadur dari sebuah cerita mendiang simbah putri.

Adalah sekelompok anak anak menunggui kerbaunya masing masing yang sedang berkubang di persawahan. Ritual menggembalakannya, menungguinya berkubang kemudian memandikannya sebelum memasukkannya ke kandang di sore hari adalah menu setiap hari mereka setelah pulang dari belajar berhitung di balai kampung. Hari ini Dirdjo kemana ya ? …, tanya seorang anak pada temannya yang lain. Tiba tiba …

Hei ! kalian pernah naik kuda Sumbawa tidak ? …, teriakan yang di sertai suara riuh derap kaki kuda itu memecah keriangan beberapa anak yang sedang asyik memainkan wayang rumput atau rumput sawah yang di anyam sedemikian rupa sehingga dapat di representasikan sebagai pengganti bentuk wayang kulit pada umumnya.

Anak anak itu terdiam beberapa saat, tetapi mata mereka lekat pada kuda dan penunggangnya yang baru saja lewat di hadapan mereka. Sampai akhirnya pemandangan itu menghilang, tertutup rimbunnya pepohonan di pojok desa.
Dirdjo mau pamer tuh sama kita, kata seorang dari mereka.
Iya, sepertinya begitu, timpal anak yang lain.
Cuekin saja, tidak usah temenan lagi saja deh sama dia, sombong… mentang mentang bisa naik kuda, kata anak yang lain sambil bersungut.

Serempak, mereka membayangkan kebersamaan mereka selama ini. Mereka biasa bercengkerama dan bercanda sambil menunggangi punggung kerbaunya masing masing yang sedang merumput. Meskipun mereka biasa berselisih pendapat, mereka selalu punya titik akhir dalam pembelajaran mereka.

Hei ! kalian pernah naik kuda sumbawa tidak ? … untuk kedua kalinya, teriakan di sertai suara riuh derap kaki kuda itu membuyarkan lamunan mereka. Tetapi kali ini, salah seorang dari mereka seolah olah memberi komando pada rekan rekannya yang lain berkata, Yuk, kita giring dan mandikan kerbau kita yuk. Merekapun beranjak dari tempat duduknya masing masing, menuju ke tengah sawah untuk menggiring kerbau mereka ke sungai. Mereka sudah tidak memperdulikan lagi teriakan dan keberadaan Dirdjo diatas punggung kuda Sumbawa tersebut.

Sepanjang perjalanan menuju sungai, mereka terdiam, hanyut dalam pikiran masing masing tentang kelakuan Dirdjo teman mereka dan kudanya dan keangkuhan serta kesombongan yang dipertontonkannya. Hingga akhirnya untuk ketiga kalinya…

Hei ! kalian pernah naik kuda sumbawa tidak ? kenapa …, teriakan kali ini cukup memekakkan gendang telinga mereka. Karena Dirdjo dan kudanya tepat melaju disamping mereka, yang berjalan beriringan menuju sungai. Tanpa ada yang memberi perintah, anak anak itu memalingkan kepala seolah ada pemandangan yang lebih menarik dibandingkan memperhatikan seorang Dirdjo dan kuda Sumbawa nya.

Tetapi ringkik kuda dan suara mengaduh yang terdengar tidak berselang lama dari keadaan tersebut, mengundang tanya mereka. Mereka melihat Dirdjo terkapar di parit, sementara kuda itu sudah lari entah kemana.
Syukurin kamu djo, gumam salah satu dari mereka.
Kapok djo, bisik anak yang lain.
Mampus saja sekalian djo, kata yang anak yang lainnya lagi.

Tetapi diantara mereka adalah satu anak yang merasa perlu untuk memastikan keberadaan Dirdjo. Meskipun anak itu adalah yang paling sering berantem dengan Dirdjo, meskipun rekan rekannya sudah melarang, dia tetap berlari menghampiri Dirdjo. Anak itu mendapati Dirdjo sudah terduduk di tepi parit sambil memegangi jidatnya yang benjol terantuk batu pada pematang sawah yang membatasi parit irigasi.

Belum sempat anak itu menanyakan keadaan teman berantemnya, dia mendengar suara lirih Dirdjo mengucapkan kalimat kalimat ini dengan raut muka nyegir tanpa dosa,
Sejujurnya, aku ingin bertanya pada kalian. Hei ! kalian pernah naik kuda Sumbawa tidak ? Kenapa ketika aku menghentakkan kakiku pada perutnya, kuda itu larinya kencang sekali, tidak seperti pada kerbau kerbau kita ? Kenapa ketika aku mainkan tali kekangnya seperti ketika kita mengelus elus tanduk kerbau kita, kuda Sumbawa itu tidak mau diam tapi justru semakin liar berlari ? Kenapa kalian tidak mau menjawabnya ?

Ach…

Pembelajaran kuda Sumbawa

Published on : Aug 07, 2010. Last modified at : Aug 07, 2010.


Click to share on twitter , digg it, or save this article to del.icio.us.

article Navigation

Related to “Pembelajaran kuda Sumbawa”.

4 Opinion for “Pembelajaran kuda Sumbawa”.

Kalau bertanya seperti itu terus ke Google dan belum menemukan jawabannya, Google mungkin akan menjawab,”Perbaiki kueri pencarianmu!”

Sepertinya yang baku itu "atlet", bukan "atlit".

Rayimas…
Ternyata Rayimas juga yang berkenan. Jadi terharu. Apa lacur ? akhirnya saya yakin dan berani berkata, Siapa bilang mencari saudara harus memakai sayembara segala macam seperti di negeri dongeng.

Bingung… kueri seperti bagaimana lagi ? nyatanya janji “paling relevan” itu juga belum signifikan. Baku atau prokem ?, sahih atau tidak sahih ?, hitung kancing harry saja ach… ya sudah saya ikut belajar yang baku, tapi pelan pelan saja ya.

Kalau kuda dielus terus diam, namanya bukan kuda Sumbawa lagi Mas, tapi kuda betina; Opssss….

Pembelajarannya menggunakan bahasa kalbu, artikel sebelumnya bahasa teknis.

Om Aldy…

Pembelajarannya menggunakan bahasa kalbu, artikel sebelumnya bahasa teknis.

Dilarang keras menghubungkannya.
Kuda Sumbawa yang ini, saat pertama kali di publikasikan sempat berada pada halaman pertama, padahal tidak ada hubungannya dengan susu kuda liar dari sumbawa, bisnis susu kuda liar, agen susu kuda liar dari sumbawa dan sebagainya, seperti yang ada berderet panjang dalam senarai pencarian. Sekarang sudah bergeser, saya jadi heran ? mesin atau manusia ?.

Leave an Opinion

Important : LOW isn't intended to on topic opinions, just be polite. You may use strict markup only. Opinions failing these requirement will be edited. Spam opinion won't get published.
Please, enter your real name and your valid email address (in required field). Don't worry, i'll kept your email private.










Random Learning