Pembelajaran kentang goreng

Tulisan pembelajaran diri ini tidak akan pernah saya pikirkan, jika saya tidak memaksakan diri memasuki sebuah rumah makan cepat saji yang sudah penuh sesak dengan pengunjung. Ketika itu, saya beruntung karena mendapatkan satu bangku sudut single yang tersisa. Dan dari sanalah cerita kentang goreng ini berasal.

Meskipun tidak seberuntung saya, seorang anak muda juga berhasil mendapatkan satu tempat duduk kosong yang ditinggalkan oleh seorang ibu. Selisih dua meja dari hadapan saya, anak muda itu duduk berseberangan dengan seorang laki-laki separuh baya. Saya mulai sedikit nakal memperhatikan tingkah anak muda yang kelihatan agak sibuk tersebut, sambil menikmati sisa makanan saya.

Saya memang egois, ketika mulai ingin duduk berlama-lama melanjutkan rasa iseng memperhatikan kegiatan anak muda tersebut. Matanya terus menatap layar 14 inchi itu dengan serius sambil terus mengunyah roti ditangan kirinya. Hmm… sepertinya profesional muda yang super sibuk. kata saya dalam hati.

Setelah roti itu habis, tangan kirinya mulai menggerayangi kantong kentang goreng di sisi kiri notebooknya. Tetapi… saya melihat dengan jelas, setiap kali anak muda itu mengambil satu potong kentang goreng dan mengunyahnya, laki-laki separuh baya yang duduk diseberangnya juga ikut mengambil satu potong dan menikmatinya. Ketika anak muda itu mengambil dua potong, laki-laki separuh baya itu juga ikut mengambil dua potong. Adegan itu terus berulang sampai akhirnya pada potongan ke-sekian, seolah-olah mengerti kebingungan saya, anak muda itu terlihat mulai tidak fokus dengan layar monitor dihadapannya.

Saya seolah ikut merasakan rasa gusar dan tidak nyaman yang dialami anak muda tersebut. Saya merasa salut pada anak muda itu, karena meskipun kening dan raut mukanya mulai aneh, anak muda tersebut terus mempertontonkan kesabarannya. Sampai akhirnya saya menyaksikan bahwa dalam kantong itu tersisa satu potong kentang goreng. Nah… sisa satu potong, ini dia… kata saya lagi dalam hati, sambil menahan rasa penasaran.

Saya terperangah, kaget, bingung, dan lain-lain campur aduk. Ketika saya melihat laki-laki separuh baya itu dengan sangat terburu-buru, takut di dahului, secepat kilat mengambil potongan kentang goreng terakhir itu. Luar biasanya, laki-laki separuh baya itu membagi potongan kentang goreng terakhir menjadi menjadi dua bagian. Satu bagian ada ditangan kirinya dan bagian yang lain di sodorkannya ke anak muda tersebut dengan tangan kanannya. Sh**… apa ini ? lebih luar biasanya lagi, anak muda itu menerimanya dan mengunyahnya meskipun saya melihat dengan jelas bahwa bom waktu rasa geram itu sepertinya tinggal menunggu waktu untuk meledak dalam bentuk teriakan atau umpatan.

Tetapi anak muda itu memang luar biasa penyabar. Dia memilih mengemasi komputer jinjingnya. Dan saya… tanpa ada yang memerintah, segera ikut berkemas dan beranjak dari tempat duduk, seolah ingin berjalan berjajar dengan anak muda tersebut untuk menyampaikan rasa simpati saya. Tetapi…

Ketika saya belum sempat mengucapkan rasa simpati itu, ketika kami berada didepan kasir pembelian dan pemesanan makanan, saya menjadi lunglai dan hanya bisa tertunduk, entah malu pada siapa ? tetapi jujur, saya malu pada diri sendiri dan lelaki separuh baya itu. Saya semakin bingung, Ya Tuhan… saya tidak mungkin membalikkan badan dan menghampiri laki-laki separuh baya yang ternyata sangat bersahaja itu, atau saya justru semakin merasa malu telah bertingkah nakal memperhatikan kegiatan orang tanpa ijin.

Sudahlah… pembelajaran diri diatas biarlah menjadi pembelajaran saya pribadi. Jangan bingung… jika anda biasa berpikir positif, atau anda tidak pernah memaknai syak wasangka secara berlebihan maka saya yakin anda mengetahui kalimat yang diucapkan kasir penjaga pada anak muda tersebut.

Betul… kasir itu bilang begini, Maaf Pak, terlalu lama menunggu pesanan kentang gorengnya ya ? Silahkan Pak, kami sudah bungkuskan kentang goreng pesanan bapak. Terima kasih sambil meyodorkan tas plastik transparan berisi sebuah kantong bertuliskan kentang goreng spesial pada si anak muda.

Pembelajaran kentang goreng

Published on : Aug 02, 2010. Last modified at : Aug 02, 2010.


Click to share on twitter , digg it, or save this article to del.icio.us.

article Navigation

Related to “Pembelajaran kentang goreng”.

9 Opinion for “Pembelajaran kentang goreng”.

Rasanya saya pernah membaca cerita yang serupa pak dhe. Cerita tersebut bukan mengenai anak muda dan pria separuh baya, tapi seorang wanita dan seorang pria.

Kejadiannya di bandara, ketika kedua orang tersebut ‘rebutan’ mengambil potongan roti kecil-kecil di kantongnya.

Di cerita yang saya baca, sang wanita lah yang berlaku seperti anak muda di atas. :(

Sepertinya pengalaman pak dhe mirip sekali dengan cerita yang saya baca :cry:

Mas rismaka…
Saya sangat menyesal telah mengurungkan niat untuk menghampiri laki-laki separuh baya itu. Karena setelah membaca komentar mas Adi, saya bisa memastikan jika laki-laki itu pernah membaca cerita yang sama dengan yang mas Adi baca.

Jika anak muda itu juga pernah membaca cerita yang sama, maka saya semakin bersyukur karena tidak melakukan aksi apapun.

Tapi sudahlah… seringkali terjadi persepsi yang sama untuk situasi yang berbeda, dan terjadi juga penilaian berbeda untuk kasus atau masalah yang sebenarnya sama.

saya pun pernah membaca cerita si ibu dan pria yang rebutan roti..

tapi cerita kentang goreng ini lebih dramatis ketika sang bapak membagi 2 potongan terakhir yang berarti ia menyadari situasi si anak muda….

kalau terjadi sama saya belum tentu bisa sesabar itu Pak, pasti saya labrak habis-habisan :D dengan mengatakan : Bapak kalau mau bilang dulu ama saya nanti saya bagi 2 kentangnya.he..he..eh……

Ingat saat ikut pelatihan tentang “why-why analysis”, kebanyakan kita lebih sering langsung ‘memvonis’ dalam memecahkan suatu masalah, yang seharusnya kenapa bisa begini? kenapa bisa begitu? kalau ini ndak ada apa yang akan terjadi? dan masih banyak why-why lainnya.
Ya tentunya saat dihadapkan dengan ruang waktu yang sedikit, bisa saja “perasaan” yang akan memutuskan. Hehe :D.

Pakdhe,
Boleh ndak kalau saya niru beberapa elemen untuk anchor external di blog ini? Izin dulu sebelumnya, sebelum dijiplak
*kabuurr

agito…
Betul mas Agit, bapak itu juga terlalu bersahaja dalam ukuran saya.

Rudy Azhar…
Mas Rudy, saya berpendapat bahwa pada dasarnya semua manusia itu di ciptakan sebagai yang penyabar. Tetapi, kadang kadang justru manusia sendiri yang sering melakukan pengingkaran. “Saya sudah tidak sabar lagi…”, “Kurang sabar bagaimana ? …”, “Saya sudah cukup sabar ya…”, dan seterusnya.

agung…
Mas Agung, “bisa saja perasaan yang akan memutuskan”. Tetapi sebagai yang diciptakan laki laki, sebaiknya jangan ah… takdir kita adalah nalar dan logika.

rismaka…
U+274F serta U+2750 bukan milik saya mas Adi. jika mas Adi juga terinspirasi oleh makna “sebuah petunjuk” itu, silahkan ambil.

Dalam hidup ini, kita harus selalu berbagi dan tidak usil dengan urusan orang lain. Mungkin itu pesan moralnya Mas Harry.

Sesekali bolehlah “mengintip” kegiatan tetangga tanpa ijin, karena tidak semuanya harus minta izin :D

Om Aldy…

Sesekali bolehlah “mengintip” kegiatan tetangga tanpa ijin, karena tidak semuanya harus minta izin :D

Setuju, jika tujuannya positif. Meskipun dengan sedikit catatan pemakluman.

Leave an Opinion

Important : LOW isn't intended to on topic opinions, just be polite. You may use strict markup only. Opinions failing these requirement will be edited. Spam opinion won't get published.
Please, enter your real name and your valid email address (in required field). Don't worry, i'll kept your email private.










Random Learning