Benturan Page Speed dengan Validasi W3C (dan Aksesibilitas)

Opini pada tulisan benturan antara page speed, semangat validasi W3C dan aksesibilitas web ini, tidak bermaksud untuk offensive dan menggurui siapapun, dimanapun. Kecuali saya tidak menyertakan pranala untuk menautkan sebuah sumber, maka sebaiknya anda tetap mengangap tulisan ini sebagai sebuah opini. Apakah memang ada benturan ? Dimana letak benturan itu ? Seberapa parah akibatnya ?

opini ini tentatif, karena perangkat pengaya Page Speed versi 1.7.1 untuk mendampingi Firebug versi 1.5.4 yang terpasang pada peramban Firefox versi 3.6.3 terpakai, suatu saat nanti pasti akan berubah karena dimutakhirkan oleh pengembangnya.

Menyambung tulisan Google Page Speed. Sejujurnya saya ingin menyampaikan sebuah kekecewaan sejak menulis posting tersebut, bahwa meraih nilai performa web yang sempurna alias 100 untuk optimasi speed loading (kecepatan muat) web dengan penggaya page speed adalah mustahil bin ajaib. Karena salah satu komponen page speed yang bernama minify HTML berbenturan dengan beberapa hal.

Please,… Mohon tidak menyanggah sebelum menyelesaikan bacaan ini.

Benturan Page Speed – Minify HTML dengan Validasi W3C

Seperti halnya pemampatan ukuran berkas CSS – minify CSS yang tertulis pada optimasi CSS. Komponen page speed yang dilabeli dengan Minify HTML memungkinkan proses pengurangan jumlah bit (pemampatan berkas) pada markah HTML yang disajikan. Berikut adalah kuotasi Minify HTML – Page Speed Payload ;

Minifying HTML has the same benefits as those for minifying CSS and JS: reducing network latency, enhancing compression, and faster browser loading and execution. Moreover, HTML frequently contains inline JS code (in <script> tags) and inline CSS (in <style> tags), so it is useful to minify these as well.

Sampai disini, benturan itu memang belum kelihatan. Tetapi,… Bagi rekan-rekan blogger yang setuju dengan tulisan pentingnya validasi W3C serta memiliki semangat untuk selalu berusaha menuliskan markah HTML yang valid pada halaman web. Maka contoh optimasi kecepatan muat dengan minify HTML ini terkesan sedikit aneh;

"Page Speed memang aneh dan terkesan mengada-ada khan ?", Tenang,… saya tidak takut menuliskan pertanyaan tersebut karena pihak pengembang Page Speed, Google Inc. sudah memahami permasalahan dan keberatan beberapa orang yang peduli dengan standarisasi validasi W3C seperti anda dan saya pribadi tentu saja. Berikut adalah pernyataan kompromi pihak Google pada Page Speed Wiki – Minify HTML tentang benturan komponen tersebut dengan semangat Validasi W3C;

Certain HTML tags are optional and can generally be omitted; for example, an HTML page without an enclosing <html> tag will still render correctly in browsers, so Page Speed's HTML compactor will remove such tags. However, some webmasters may want their HTML to conform to a strict doctype, such as XHTML, and removing "optional" tags may break validation of these doctypes.

Akhirnya, pada benturan Page Speed dengan Validasi W3C, seorang webmaster dihadapkan pada konsekwensi untuk memilih salah satu diantaranya. Tetap mengusung semangat valid sesuai standarisasi validitas markah via W3C atau ingin mencapai performa web yang sempurna ?. (meskipun menurut saya, meraih performa web terkait kecepatan muat halaman web yang sempurna, tidak semudah membalikkan telapak tangan)

Benturan Page Speed – Minify HTML dengan Aksesibilitas Web

Mungkin opini tentang benturan Page Speed – Minify HTML dengan Aksesibilitas Web akan menjadi subyektif jika saya tidak menyiapkan pertanyaan-pertanyaan konyol pada tulisan Tag Unordered List daftar menu. Sekali lagi, silahkan menggunakan contoh hasil optimasi pemampatan berkas HTML yang menggunakan komponen Minify HTML diatas sebagai pedoman.

Bagaimana menurut anda ? pengingkaran dokumen aksesibilitas – WCAG kah ?

Benturan Page Speed dengan Validasi W3C (dan Aksesibilitas)

Published on : May 24, 2010. Last modified at : Jul 19, 2011.


Click to share on twitter , digg it, or save this article to del.icio.us.

article Navigation

Related to “Benturan Page Speed dengan Validasi W3C (dan Aksesibilitas)”.

24 Opinion for “Benturan Page Speed dengan Validasi W3C (dan Aksesibilitas)”.

ilmu saya lum nyampe situ kang.. hikz.. Oon banget aq..

Mas Nur,…
Jangan terlalu merunduk. Nanti 'Nyungsep' beneran lhoh :lol:
Disangkanya ilmuku seberapa ? Anggap saja "Tong kosong nyaring bunyinya" :)

Dulu..apa masih ya.. di forumnya w3school ada contoh dokumen xhtml yang nyeleneh, tapi tetep valid xhtml dan dibaca baik (dimaafkan) oleh kebanyakan peramban Web.

Mungkin suatu ketika nanti ada doctype (X)HTML yang mengakomodasi struktur yang lebih hemat sesuai ‘terobosan’ Page Speed (baca: asal masih terbaca peramban Web grafis). Mungkin XHTML5 atau kembali ke HTML? :)

Saya lebih senang ombak yang mengalahkan batu karang, dibandingkan page speed.

kurang paham soal html, tapi dilihat dari bentuknya antara sebelum dan sesudah itu sederhana yah? tapi pengaruhnya sebesar itu…

Mas Hanif,…
"Dalam persepsi dan opini pribadi saya" lho mas, mohon dicatat. Jika opini yang aneh diatas terasa aneh buat mas hanif, sebaiknya abaikan saja. :)

Om Aldy,…
Bagaimana jika 'terobosan'(nya Rayimas Dani) Page Speed itu adalah ombaknya, dan batu karangnya adalah aturan-aturan penulisan markah HTML milik W3 Consortium yang sering dianggap kaku oleh beberapa pengembang peramban web ?
Jika batu (nya Om Aldy) bisa berlubang karenanya, maka saya pasti akan berhenti ngeblog karena pada saat tersebut tidak ada materi standarisasi validasi W3C untuk saya gembar-gemborkan lagi :(

Tetapi, saat ini saya masih bisa tersenyum koq Om. Karena selain melubangi batu, air juga masih bisa membuat 'stalagmit' dan 'stalagtit' semakin mengerucut indah ;)
Ya dech,… Meskipun letaknya ditempat paling primitif, dalam sebuah gua, hening, sepi, tenang, dan jarang dikunjungi orang ;)

Rayimas,…
Tentang dokumen xhtml aneh tapi valid, mungkin bisa dipublikasikan lagi di daniiswara.com. Jasmerah masih tetap diperlukan untuk sebuah pembelajaran, dan saya pasti menyukainya.

Barisan Mr. Sergey khan sudah terbiasa bernegosiasi, berkolaborasi dengan lembaga-lembaga pada beberapa negara. Apakah selanjutnya akan mencoba menyambangi W3 Consortium dengan 'terobosan' Page speed tersebut ? tidak ada yang bisa menafsirkan khan ?. :(

Who knows ? Siapa sangka jika (misalnya saja) page speed sebenarnya usaha lain untuk memainkan peran di W3 ? if there is, lets us say "Wellcome to the new world wide web" :)

Setidaknya struktur elemen ul dan li tersebut kan bukan sesuatu yang baru, Pakde. Kalau tidak salah, HTML 3.2 dan 4 masih bisa memakai susunan li demikian. Apalagi di sisi peramban Web ada moda quirksmode yang pemaaf.

Kecuali memakai doctype sejenis strict yang disajikan sebagai xhtml/xml murni.

Rayimas,…
Menyebut kata markah tanpa mengikutsertakan akronim xml sebagai media pertukaran datanya, untuk saat ini koq rasanya sedikit aneh rayimas. Atau saya yang ketinggalan cerita tentang format baru tandingan XML ?

Tetapi,… Anggaplah demikian ( kembali ke HTML versi jadul ). Anggaplah Well formed XML memang tidak dibutuhkan lagi. Maka, Apa khabar pengembang mesin-mesin sindikasi ?

Maaf, diedit lagi biar tidak terlalu frontal. Ngeri juga nech :)

Pakde,
Mungkin yang make HTML biasa memang bakal lebih gegas. :) Seperti semantic yang detail dalam tiap class dan penamaannya, tapi berpeluang boros di ukuran berkas.

Saya tidak mengikuti lagi diskusi Page Speed dan YSlow di tempat lain. Walau tidak valid (X)HTML, feed pada XML kadang pemaaf dan masih bisa terbaca kan, Pakde? :)

Andai kata HTML tersebut di kompres dan membiarkan browser melakukan dekompresi. :D

Mas Ganda,…
Saya sudah ikut Mas Ganda menggunakan output buffer itu. Bahkan nggak tanggung-tanggung, saya sudah coba untuk meletakkannya ditempat inangnya. Mungkin peramban memang sudah memaafkan, tetapi si Minify HTML itu tetep saja nggak ngreken. Gimana ?

Rayimas,…
Saya tahu, kalau saya sedang dipaksa untuk menjawab pertanyaan, "Kenapa harus Grade A ?" pada sesi yang saya pura-pura merem itu :P

– Kalau gitu, kasih tambahan komponen dong. Untuk penganut <div> sentris, ada opsi tambahan "Minify DIV", misalnya. :)
– Tentang feed, sayangnya ketika jaman HTML3.x/4 saya lagi asyik dengan rayuan cinta gombal. Jadi tidak pernah trial error dengan xml. Cuma, jika iframe yang saya terima dulu (ktika dengan doctype trans) memang berhubungan dengan xml yang tidak well formed di feedburner. Maka saya harus cerita seperti apa lagi ya ? :(

Eh, output buffer yang mana ya Pak De? Erm saya juga gak pernah pakai Minify HTML, saya cuma pakai Gzip. Saya hanya berpikir, andaikata kode HTML kita bisa dikompresi lebih baik lagi, seperti menggunakan model dictionary compression, dan membiarkan browser melakukan dekompresi. Ah, ribet. Dari pada kena timpuk para pen-disain web, mending ikut yang standar aja. :D

Mas Ganda,…
Siapa yang mau nimpuk ? Obrolan penganut standar validasi W3C seperti ini, sudah dimaafkan via page-speed wiki koq. Kenapa harus takut ?.
Lagipula, topik ini tidak bermaksud untuk protes koq. Tapi mempertanyakan saja, kenapa harus ada minify html yang denotasinya berkebalikan dengan cara penulisan markah yang baik dan benar (untuk user yang masih tahap belajar, seperti saya) ?. :(
Jika tujuannya memang dikhususkan untuk yang expert atau anggota waralabanya, kenapa harus dicampur dengan teknik-teknik yang diperuntukkan/diterapkan oleh general user ?.

Jika minify HTML yang mereka buat berkebalikan dengan cara penulisan markah yang baik dan benar, kenapa kita buat standar minify HTML kita sendiri? Hehehehehe… :D

Untuk mengoptimalkan kecepatan muat, saya memilih metode yang biasa saja. seperti penggunaan layout minimalis. jikalau menggunakan JavaScript saya memilih menaruhnya di akhir dokumen.
Saya pernah mencoba melakukan editing pada CSS yang telah dikompresi, kira-kira butuh waktu 4kali lebih lama –mungkin lebih– daripada dokumen yang terstruktur dengan baik.

Mas Ardian,…
Hehe… iya nich, saya sedang dalam taraf belajar keluar dari lingkaran divitis. :)

Hehe…, saya pernah pusing 7keliling gara-gara mencoba membuat layout tanpa div sama sekali. memang berhasil, tetapi saya rasa tidak ada salahnya menggunakan “sedikit” div dalam layout.

mm, tentu saja sedikit javascript agar lebih menyenangkan :)

Sehingga HTML5 akan ngetren nantinya. Minimalis dalam divitisnya. :)

Masih ada http gzip compression, knp gak dimanfaatkan? HTML minify hanya memperlangsing ukuran byte html dgn meniadakan karakter2/elemen2 yg krng pntng pd kode html tsbt. Namun Gzip compression bekerja, dimana server akan mengkompres halaman yg diload dan kemudian browser akan mengekstrak kembali halaman yg tlh dikompres tsbt. Data yg dkrm dr server brp halaman/file terkompresi dgn struktur elemen yg ttp sama. Spt pd file yg di winzip gt, isi msh ttp sama dgn aslinya, tp ukuran lbh langsing.

Just my opinion. Salam kenal.

Mas Edi,…
Salam kenal juga mas. Terima kasih opininya. Saya akan mencoba menerapkan saran Mas Edi. Perlahan-lahan tentunya, biar tidak salah jalan.

Rayimas,…
Maaf,… ternyata masih menemukan yang terselip saat bersih-bersih. :)
Minimalis dalam divitis dengan HTML5 ? Sepertinya begitu, sesuai proyeksi kali :(
Tapi,… bagus juga, ngirit berapa div ya jika elemen article, section, nav, footer sudah dibakukan. Yang jelas sih,… siap-siap bongkar struktur lagi dach :(

Random Learning